Senin, 28 Mei 2012

Tubektomi dan Vasektomi untuk Sterilisasi.



Mendengar kata sterilisasi, banyak pasangan yang ketakutan dan menolak untuk melakukannya. Banyak alasan dalam menolaknya, takut pada proses operasi lah , efek samping ke tubuh lah , biaya dan lainnya. Padahal tidak begitu lho. Karena itu kali ini kita akan membahas mengenai kontrasepsi steril ini.
Apa itu sterilisasi?
Sterilisasi adalah salah satu metode kontrasepsi secara operatif untuk mencegah kehamilan. Pada wanita dilakukan dengan tubektomi sedangkan pada pria disebut vasektomi.
Dulu sterilisasi pada wanita memang dilakukan dengan pengangkatan rahim, tapi sekarang tidak lagi, apalagi dengan kemajuan teknologi, maka sterilisasi pada wanita cukup dengan mengikat saluran tuba atau tubektomi.
Kapan waktu yang tepat untuk sterilisasi?
  • Anda tidak menginginkan keturunan lagi.
  • Usia anda saat ingin melakukan sterilisasi lebih dari 30 tahun.
  • Jumlah anak anda lebih dari 3.
  • Tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan hati .
Kita mulai dengan sterilisasi pada wanita.
Tubektomi adalah proses sterilisasi dengan cara mengikat saluran telur (tuba falopi). Ada 4 cara melakukan tubektomi yaitu :
  • Sterilisasi tuba yang dilakukan saat operasi Sectio Caesar atau operasi perut lainnya. Biasanya pilihan anestesinya adalah anestesi spinal pada SC.
  • Minilaparotomy postpartum setelah persalinan pervaginam. Biasanya dilakukan 12-24 jam setelah persalinan dengan anestesi local dan sedasi ringan bila perlu.
  • Minilaparotomy interval. Sterilisasi di luar masa nifas. (sama dengan atas)
  • Laparoskopi. Dapat dilakukan 6-8minggu setelah persalinan, atau setelah abortus atau kapanpun pasien siap. Anestesi yang digunakan adalah bius umum.
Apa yang harus dipersiapkan sebelum operasi?
Yang pasti adalah anda harus dalam keadaan tidak hamil sebelum operasi dilakukan. Bila sterilisasi dilakukan saat operasi Caesar atau saat masa nifas, maka tidak perlu khawatir akan resiko kehamilan. Tapi bila di luar masa itu maka hal yang perlu dipersiapkan adalah :
  • Kontrasepsi sebelumnya terus dipertahankan hingga hari operasi
  • Jangan melakukan hubungan seksual minimal 4 hari sebelum operasi
  • Tes kehamilan negative sebelum operasi
  • Sebaiknya operasi dilakukan saat satu minggu setelah menstruasi
  • Puasa minimal 6 jam sebelum operasi dilakukan
Bagaimana proses tubektomi ini dilakukan?
Prinsip tubektomi adalah menghalangi telur melewati saluran telur sehingga tidak terjadi konsepsi dengan sperma. Tubektomi dilakukan dengan cara mengikat kedua saluran telur anda, dapat melalui ligasi langsung pada saluran, elektrokoagulasi tuba, pemasangan cincin tuba, pemasangan klip pada tuba (ketiga cara terakhir dilakukan dengan laparoskopi).
http://media.tanyadokteranda.com/images/2010/03/technique_Pomeroy.jpghttp://media.tanyadokteranda.com/images/2010/03/minilaparotomi-300x195.jpg
Kemudian minilaparotomy adalah tekhnik dengan sayatan sebesar 3cm di atas pubis anda, untuk kemudian kemudian dilakukan ligasi tuba. Minilaparotomy dapat dilakukan dokter terlatih dengan biaya lebih murah, hanya saja parut luka yang dihasilkan cukup besar.Sedangkan laparoskopi harus dilakukan spesialis kebidanan dan biaya lebih mahal, tetapi luka parut yang dihasilkan kecil bahkan nyaris tak terlihat dan penyembuhan lebih cepat.
http://media.tanyadokteranda.com/images/2010/03/tubal-ring.jpghttp://media.tanyadokteranda.com/images/2010/03/filshie-clip.gif
Berikut adalah video animasi mengenai laparoskopi tubektomi dengan pemasangan filshie clip : laparoskopi tubektomi
Apa komplikasi melakukan tubektomi?
Tubektomi terbukti aman, resiko komplikasi hanya sebesar 1,7 per 100 kasus tubektomi. Resiko meningkat bila sebelumnya anda menderita pelvic inflammatory disease (PID), diabetes melitus, obesitas, dan riwayat operasi perut sebelumnya. Komplikasi yang mungkin muncul :
  • Perdarahan
  • Perlengketan (adhesi) organ intraabdomen
  • Salphyngitis (radang saluran tuba).
  • Cidera organ perut
Bila timbul panas, nyeri perut dan keluar cairan atau darah dari bekas sayatan, maka sebaiknya anda segera ke dokter.
Apa yang harus diperhatikan setelah tubektomi dilakukan?
Tubektomi termasuk one day care, artinya dari proses masuk, operasi hingga pulang hanya membutuhkan waktu satu hari. Hal yang harus diperhatikan :
  • Istirahat dan jaga luka sayatan bersih dan kering selama 2 hari
  • Hindari hubungan seksual selama 1 minggu. Bila sesudah itu masih merasa tidak nyaman, maka dapat ditunda dulu.
  • Jangan mengangkat beban berat atau menekan daerah operasi setidaknya 1 minggu setelah operasi.
  • Bila terdapat tanda-tanda kehamilan, segera periksakan diri ke dokter atau bidan.
Apakah sterilisasi bisa gagal?
Kegagalan biasanya terjadi bila sebelum operasi telah terjadi kehamilan sebelumnya. Bila tidak maka angka keberhasilan sterilisasi adalah 99%.
Bagaimana bila saya memutuskan untuk hamil lagi?
Anda tidak perlu khawatir, dengan teknologi saat ini, angka keberhasilan hamil adalah 75% setelah keadaan tuba dikembalikan seperti semula setelah sterilisasi dilakukan. Hanya saja resiko kehamilan di luar kandungan juga meningkat.
Apakah sterilisasi ini menganggu menstruasi dan hormon saya?
Ada beberapa penelitian menunjukkan bahwa tubektomi menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur dan nyeri saat menstruasi tapi ini terjadi pada tubektomi cara lama. Malahan tubektomi terbukti mengurangi resiko kanker ovarium selama 20 tahun setelah operasi.
Dimana saya bisa mendapatkan layanan tubektomi ini?
Pelayanan Minilaparotomi tubektomi bisa didapatkan di klinik pelayanan KB yang memilki tenaga ahli dan rumah sakit manapun. Taksiran biayanya adalah 1 hingga 2 juta rupiah. Kadang-kadang pemerintah mengadakan layanan kontrasepsi gratis ataupun melalui program Gakin untuk rakyat kurang mampu.
Sedangkan pelayanan laparoskopi tubektomi bisa didapatkan di setiap rumah sakit yang menyediakan layanan laparoskopi dan biayanya tergantung rumah sakit dan kelas yang anda pilih.
Berikutnya akan dibahas mengenai vasektomi pada pria.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar